Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan kisah pengalaman nyata yang menggambarkan perjalanan seorang pribadi dalam memperjuangkan kesetiaan terhadap panggilan hidup religius. Bagian kedua berisi catatan reflektif penulis yang hendak menunjukkan bahwa hidup selibat tetap mungkin dihayati sebagai sebuah bentuk pemberian diri.
Tokoh Mulyadi dalam novel awalnya sangat yakin terhadap panggilannya sebagai seorang frater. Setelah melewati berbagai pergulatan, ia semakin dekat dengan tahap yang selama ini dinantikannya: mengenakan jubah dan memasuki babak baru dalam hidup religius. Namun, sebuah perjumpaan sederhana di lorong rumah sakit perlahan mengubah dinamika hidupnya.
Talenta, seorang gadis yang ia jumpai melalui pelayanan di rumah sakit, hadir bukan dengan sesuatu yang istimewa, melainkan melalui percakapan-percakapan sederhana yang perlahan membangun kedekatan. Tanpa disadari, Mulyadi mulai berhadapan dengan pergulatan antara kasih kepada seseorang dan kesetiaan terhadap panggilan yang telah ia pilih.
Pada akhirnya, Mulyadi harus mengambil keputusan terhadap dua hal yang sama-sama berharga baginya. Ia memilih untuk tetap setia pada panggilan dan Talenta pergi dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Namun, perjumpaan itu meninggalkan pelajaran tentang cinta, pengorbanan, dan arti sebuah pemberian diri.
Setelah kisah utama selesai, penulis menghadirkan refleksi mengenai pergulatan manusiawi dalam hidup religius. Novel ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa para religius pun tetap manusia yang memiliki kerinduan, kelemahan, dan perjuangan batin. Melalui kisah ini, penulis ingin menunjukkan bahwa kesetiaan dalam panggilan bukan berarti tidak pernah mengalami pergulatan, melainkan keberanian untuk terus mencari kebenaran dan bertumbuh dalam kasih.







Reviews
There are no reviews yet.